Tampilkan postingan dengan label In Relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Relationship. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2017

Kapan Boleh Pacaran?

Sering kali saya tertawa dalam hati mendengar ada anak sekolah minggu (anak SM) yang sudah bicara cinta-cintaan. Dan rasanya lucu saja setiap kali melihat ada anak remaja gereja yang sudah pacaran. ih waw..

Berapa persenkah ada anak SMP yang pacaran dan akhirnya sampai menikah?
Dari pengalaman saya: jumlahnya 0%.

Lalu berapa persenkah jumlah anak SMA/SMK/sederajat yang pacaran lalu menikah baik-baik?
Dari pengalaman saya: Jumlahnya hanya SATU. Dari ratusan teman saya yang pernah pacaran saat SMA/SMK, hanya satu saja yang akhirnya menikah baik-baik (bukan menikah karena sudah gendut duluan).

Lalu kalau gitu kapankah kita boleh pacaran?

Jawabnya sederhana yaitu pada saat kita sudah menjadi manusia utuh atau manusia yang sempurna. Maksudnya adalah kita sudah tahu tanggung jawab kita sepenuhnya, dan tidak mengandalkan orang lain dalam memenuhi tanggung jawab kita.

Kalau ada orang yang berpikir tanpa memiliki pacar, maka hidupnya belum utuh. Sebaiknya intropeksi diri sendiri, dan belajarlah menjadi pribadi yang utuh. Kalau belum utuh, lalu pacaran dan berharap menjadi utuh, itu seperti mimpi di negeri dongeng.

Banyak orang berpikir, Setengah tambah Setengah sama dengan Satu. Dikira hubungan dengan lawan jenis itu seperti matematika kali ya? Itu hanya ekspektasi orang yang belum utuh.

Kenyataannya, di dalam hubungan setengah ditambah setengah, akan jadi seperempat. Jika tidak percaya, coba saja perhatikan gaya pacaran teman kita yang remaja atau sudah pemuda. Kalau belum utuh, pasti pacaran hanya akan seumur jagung. Jika lebih pun, ujungnya pasti tidak baik.

Mau suka atau tidak, itulah kenyataan dari orang yang belum utuh sudah melakukan pacaran.

Trus, dari statistik manapun, jika mayoritas orang gagal menjalin hubungan pada masa sekolah, bagaimana mungkin kamu masih yakin bisa pacaran dan menikah dengan orang itu?

Memang sih ada yang pacaran sejak SMA/SMK dan akhirnya menikah. Tetapi jumlahnya amat sangat dikit sekali. Itu pun mereka lewati dengan sangat berat.

Jadi kalau masih ada yang nekat mau pacaran saat masih sekolah, ya tanggung sendiri resikonya.

Kalau belum kuat sakit hati, sebaiknya hindari pacaran saat masih sekolah.

Lalu kapankah waktu yang tepat untuk pacaran?

Jawabannya bisa berbeda untuk setiap orang. Karena itu tanyakanlah kepada mentormu masing-masing, atau tanya kepada gembala kamu.

Di GPdI Cimax, ada bos Tjong yang bisa ditanya soal ini. Ada bapak ibu Gembala yang selalu dengan senang hati memberikan nasihat tentang hal ini. Ada pula orang-orang yang sudah menikah, yang dapat memberikan nasihat akan hal ini, seperti ko ABuy dan ci Fera, ci Icha dan ko Sem, om Yanto dan tante Kevani, lalu om Djati dan bu Darmi.

Jika salah satu dari orang yang saya sebutkan diatas mendukung kamu untuk menemukan seorang pacar, percayalah masa depanmu akan cerah bersama pasanganmu. Sebab ada mentor yang selalu mengawasimu.

Terlebih jika mereka semua yang saya sebutkan diatas setuju akan hubunganmu dengan pasanganmu, percayalah mereka pasti akan memberimu nasihat untuk melewati masa-masa sulit di dalam menjalin hubungan.

Sebaliknya, jika tidak ada seorang pun dari nama diatas yang setuju akan hubunganmu dengan pasanganmu, siap-siaplah menempuh masa depan yang sulit sendirian dan terkena "pukulan-pukulan" yang menyakitkan dari mereka.

Akhirnya, Jangan main api jika tidak mau terbakar. Jangan main cinta, jika tidak mau patah hati.



+++++++
ditulis oleh: Dedy Yanuar

Minggu, 12 Maret 2017

Bunuh Diri? Bukan Tanggung Jawabmu

Pernahkah kita mendengar cerita atau curhatan hati teman kita tentang hubungannya dengan pacarnya?

Salah satu hal yang paling sulit saya pahami adalah ketika ada orang yang mengancam pacarnya, jika putusin dia, maka dia akan bunuh diri atau melukai diri sendiri. Bukan sekali saya mendengar hal ini dari teman-temanku, ternyata bunuh diri sudah menjadi budaya bagi orang yang patah hati.

Kalau kita melihat berita di media-media, akan kita temukan ada begitu banyak orang yang bunuh diri, dan sebagian besar bunuh diri karena alasan patah hati.

Di alkitab jelas mengatakan barangsiapa menumpahkan darah manusia, maka akan dituntut oleh Tuhan. Demikianlah orang yang mencelakakan diri sendiri dengan bentuk apapun, PASTI langsung masuk Neraka.

Lalu bagaimana kalau ada pacar kita yang mengancam akan bunuh diri kalau kita putusin dia?

Jawabnya sederhana: Langsung putusin dia saat itu juga.

Lalu bagaimana kalau dia benar-benar bunuh diri atau mencelakakan diri sendiri?

Jawabnya pun sederhana: Dia BUKAN tanggung jawab kita, Jadi putusin dia saja.

Mengapa saya menjawab demikian?

Alasannya:
Pertama, dia itu masih tanggung jawab ortunya atau pengasuhnya. BUKAN tanggung jawab kita. Jika dia benar-benar mencelakakan diri sendiri, itu adalah tanggung jawab orang tuanya, bukan tanggung jawab kita.

Kedua, dia itu tidak sayang kepada diri sendiri, bagaimana mungkin dia akan sayang kepada kita? kalau dia berani mencelakakan dirinya sendiri, dia pun akan berani mencelakakan kita suatu saat nanti.

Ketiga, orang yang pernah mengatakan akan bunuh diri, jika tidak bertobat, akan senantiasa berpikir ingin bunuh diri. Terlebih jika sudah punya kronologi pernah melakukan percobaan bunuh diri, jika tidak bertobat, dia akan mengulangi perbuatannya suatu saat nanti.

Jadi jika bertemu dengan pacar yang semacam itu, putusin saja dia sekarang juga.


+++++++
ditulis oleh: Dedy Yanuar